Bahan Dasar Mie, Bihun, Kwetiao

Tulisan ini merupakan ulasan terhadap rasa ingin tahu yang muncul dari pertanyaan seorang teman, yang menanyakan apa bahan dasar mie? misoa? dan bihun?

Image

Istilah Mie, Misoa, Bihun dan Kwetiao berasal dari bahasa Hokkien (red: Fujian),

Mari kita tebak, apa bahan dasar dari masakan di bawah ini berdasarkan karakter Han (Hanzi) yang mewakilinya…

Mie  麵

Misoa 麵線

Bihun 米粉

Kwetiau 粄條 (disebut 粿條 dalam bahasa Hokkien)

Soun 冬粉

Bagi yang mengerti Hanzi (atau Kanji dalam bahasa Mandarin), tentu bisa menebak bahwa

Bihun terbuat dari beras, karena namanya saja 米粉 (100 untuk Anda)

Mie, namanya saja 麵, tentu terbuat dari tepung terigu, dicampur telur,

Misoa, yang dikenal dengan nama 麵線, juga terbuat dari tepung terigu,

hanya cara pembuatannya berbeda, dan setahu saya, jauh lebih ribet daripada mie…

 

Berikut cara pembuatan Misoa yang saya unduh dari internet:

Image

Bagaimana dengan kwetiau dan soun?

 

Kwetiau sendiri terbuat dari Beras,

kwetiau

Bagaimana dengan soun alias 冬粉?

冬粉sendiri sesuai dengan namanya 冬 yang artinya musim dingin,

terbuat dari kacang hijau…

kacang ijo

 

Karena tidak banyak vegetasi yang mampu hidup di musim dingin, dan salah satu yang mampu bertahan adalah kacang hijau…Maka muncullah soun 冬粉..

Tapi di zaman sekarang, banyak produsen yang mengganti bahan dasar soun dengan bahan lainnya…

Gold Fish

I want to be a gold fish

with

a memory that only lasts for 2 seconds

I won’t feel the pain
All I have is only joy
because every moment just last for 2 seconds,
and when it comes to an end,
All I have is an empty joyful memory
 maskoki Spencer (Oranda)
(Inspirasi dari Drama Korea, Pasta)

Graduating Paper

Bagi setiap insan yang pernah menempuh pendidikan tinggi, pasti mengerti akan esensi dari sebuah Graduating Paper. Seorang mahasiswa, baik sarjana maupun pascasarjana diwajibkan untuk menelurkan sebuah graduating paper, atau yang akrab disapa skripsi oleh mahasiswa S1, thesis oleh mahasiswa S2, dan disertasi oleh mahasiswa S3, sebagai prasyarat kelulusan.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, penulisan graduating paper merupakan bagian yang paling akhir dan juga paling sulit dalam kehidupan seorang mahasiswa.  Ketika menulis karya ilmiah, seorang mahasiswa yang juga berstatus sebagai peneliti, dituntut untuk memiliki gambaran (big picture) mengenai apa yang akan diteliti, kemudian menganalisa objek penelitian secara lebih spesifik dan mendalam. Dan bagian yang tersulit adalah menuangkan hasil penelitian dalam bentuk kata-kata, ya kata-kata. Terutama bagi mahasiswa dengan background Sastra dan Linguistik seperti saya, tuntutan akan jumlah, mutu dan keindahan kata-kata merupakan hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Dan tentu ini bukanlah hal yang mudah apabila kita menulis tidak dalam bahasa pertama ataupun bahasa Ibu kita. Memang ini bukan pertama kalinya saya menulis Graduating Paper, tapi tetap saja Graduating Paper lagi-lagi menjadi tantangan besar dalam kehidupan akademis saya.

Saat ini saya hanya bisa berusaha, berusaha, dan berusaha menyelesaikan tugas dan kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa. Karena tanpa produk yang satu ini, saya tidak akan mendapatkan selembar kertas yang akan menunjang karier saya di kemudian hari.

Semoga hari-hari penulisan Graduating Paper ini akan segera berakhir, sungguh kudambakan menjadi bagian dari calon wisudawan yang siap menerima selembar kertas berharga itu.

Tao Yuan-Hakka Culture Expedition

Di akhir liburan summer tahun 2012 ini, saya berkesempatan mengunjungi kota kecil di Taoyuan county , yang letaknya tidak jauh dari kampus saya tercinta, Chung Yuan Christian University. Tempat yang saya dan teman-teman saya kunjungi ini memang bukan tempat yang terkenal..Tapi justru tempat inilah yang memberikan kesan paling mendalam bagi saya….

Perjalanan satu hari ini meliputi kunjungan ke rumah-rumah tua yang dijadikan tempat pameran lukisan ataupun tempat pameran perlengkapan sehari-hari yang digunakan oleh generasi kakek-nenek kita…

Dua tempat favorit saya adalah rumah keluarga Huang dan rumah keluarga Zen.

Di rumah keluarga Huang, lewat pemilik rumah yang berlatar belakang S2 arsitektur, saya belajar tentang filosofi arsitektur China, khususnya suku Hakka…

Dan yang paling mengesankan bagi saya adalah rumah tersebut ditempati oleh 30 orang…Pemilik rumah tersebut adalah bandar obat-obatan China terbesar di Taiwan Utara…Tetapi rumah mereka sangatlah “antik” di mata saya…Untuk keperluan mandi, keluarga mereka tidak menggunakan pemanas zaman modern, tetapi masih menggunakan tungku pemanas yang memerlukan kayu bakar untuk proses pemanasan air….Bukan karena tidak mampu membeli, tapi itulah keputusan yang dibuat dalam rapat keluarga besar tersebut….Benar2 mengesankan!! Andai ku bole mencoba mandi di rumah tersebut, saat musim dingin tentunya 😀

Karena jumlah anggotanya yang banyak, setiap kali saat makan, salah seorang anggota keluarga harus membunyikan lonceng, untuk memanggil anggota keluarga yang lain…

Terlihat di foto, kita semua berkumpul di meja bundar untuk menyantap masakan yang sudah disajikan oleh pemilik rumah…Makanan tersebut sudah disiapkan oleh Sang Ibu dari jam 4 pagi…Dan rasanya Wow!! Mantap!! Rasa Mama ^^

 

Image

Lokasi berikutnya adalah rumah keluarga Zen…Yang paling berkesan di rumah ini adalah pohon keluarganya..Pohon Keluarga Zen disusun dari zaman dinasti Xia 夏朝, yang merupakan dinasti pertama di China (21-16 SM)…Sungguh menakjubkan!! Andai pohon keluargaku bisa ditelusuri, setidaknya sampai zaman Dinasti Qing 清朝 yang merupakan kerajaan terakhir di China….hehe…

Selain pohon keluarga, kita juga dapat menyaksikan perlengkapan dapur dan perlengkapan pertanian yang digunakan oleh generasi kakek-nenek kita….Di zaman yang serba canggih ini, segala sesuatu dikerjakan oleh mesin…Dan perlengkapan pertanian yang sederhana tersebut seperti nyaris sirna…Image

New Season-New Fashion

Sepertinya Musim Gugur telah tiba..Dulu, saya selalu penasaran dengan yang namanya musim gugur dan musim semi, karena tidak terbayang di benak pikiran saya, kedua musim ini pada dasarnya seperti apa sich? Berbeda dengan musim panas ataupun musim dingin, yang dari namanya saja sudah bisa kita tebak, udaranya panas banget ataupun dingin banget…

Kalau musim gugur, mungkin di tiap negara berbeda-beda. Kalau di taiwan, musim gugur diwarnai dengan angin yang tidak bosan-bosannya bertiup…Layaknya orang naik motor di Jogja pada malam hari dan menempuh perjalanan jauh, kira-kira seperti itulah rasanya musim gugur bagi saya….

Berhubung musim gugur telah tiba, dan akan diikuti dengan datangnya musim dingin, Jerrr, saya pun bersiap siaga dengan mempersiapkan pakaian musim dingin saya, winter coat dll…Terpaksa saya harus membongkar kotak pakaian saya yang baru saya kemas dengan rapi 3 minggu yang lalu…Rasanya saya sudah harus bersiap-siap untuk berpisah dengan baju kaos yang serba simple dan santai…Dan mengucapkan selamat datang pada sang jaket anti angin….

Setengah tahun di Taiwan, saya bisa merasakan cara berpakaian di negara 4 musim memang lebih bervariasi dibanding negara tropis, karena tujuan utama berpakaian memang untuk melindungi tubuh dari terik matahari, udara dingin ataupun suhu yang terus berubah….Dari segi lemari pakaian, rasanya jauh lebih sesak…Dari segi kantong, hmm, banyak terkuras untuk memenuhi kebutuhan perlindungan tubuh….Dari segi gaya, hmm, mungkin boleh dikatakan lebih gaya dan tidak mudah bosan, karena tiap beberapa bulan harus ganti mode sesuai dengan tuntutan musim…

Dan tidak semua mode harus kita ikut, karena mode tidak berjalan lurus dengan ketebalan kantong…Yang palin g utama adalah memakai pakaian yang memang sesuai dengan tuntutan musim, dan mode belakang jika  memiliki dana berlebih; setidaknya itu prinsip saya ^^ Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh…Dan bekerja keras untuk menghadapi Semester yang baru…
加油!

Summer in Taiwan

Ini adalah liburan Summer pertamaku di Taiwan. Awalnya saya mengira kehidupan summer itu tidak jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia, berhubung Indonesia adalah negara tropis dan summer adalah musim panas, jadi bagi saya sebagai orang Indonesia, summer pasti bukanlah sesuatu yang tidak biasa.

Tapi sepertinya tidak semua seperti yang saya kira. Pada musim panas, siang hari lebih panjang daripada malam (selama ini saya hanya menginatnya secara teori). Selama sebulan ini, jam 4-5 sore terasa masih terik, jam 7 malam juga terasa seperti sore hari, karena masih terang.

Walaupun sekarang ini adalah Summer Break, tapi kehidupan Graduate Student di Taiwan sepertinya tidak ada Breaknya. Mungkin boleh dikatakan sedikit lebih santai dibanding saat kuliah; sedikit lebih santai tidak berarti santai 😦

Selain bergulat dengan penelitian untuk penulisan paper, saya ingin mengisi summer ini dengan sesuatu yang fun dan belajar tentang hal-hal diluar kehidupan kampus. Awal Juli kemarin ikut nyepeda ke Yong An, selain menikmati pemandangan indah (mungkin tidak seindah pemandangan alam di Indonesia, tapi setidaknya bisa melihat lingkungan yang hijau dan pantai yang tampak biasa-biasa saja), juga bisa menikmati keasyikan bersepeda. Berkat Sun Block (yang menurut beberapa temanku, ga mampu melindungi kulit mereka), jaket dan topi, untuk perjalanan naik sepeda kali ini, kulitku 95% aman 😀 Masih teringat dengan jelas di benakku dan masih membekas di kulitku, saat leher bagian belakang dan punggung atas saya terbakar dengan sangat parah dalam perjalanan Salatiga-Solo dengan motor. Gara-gara menyepelekan kekuatan matahari, saya harus menghabiskan banyak uang, waktu dan energi untuk merawat kulit saya yang terbakar. Walau sekarang kulit saya sudah pulih, tapi dari segi warna, hmm, masih belang-belang kayak zebra.

Kali ini sebelum ke Yong An saya jauh lebih hati-hati terhadap serangan matahari. Alhasil hanya sebagian kecil saja yang terbakar, lagi-lagi karena saya teledor, bagian yang dekat dengan kerah baju. Setidaknya perjalanan ke Yong An kali ini memberi saya satu lagi pelajaran mengenai perlindungan dari sinar matahari.

Hari Sabtu lalu, tepatnya 23 Juli, saya pergi ke Chi Hu dan sekitarnya bersama teman-teman. Kali ini saya lebih cermat dan teliti memakai Sun Block, karena kali ini tidak naik sepeda, melainkan naik bus dan jalan kaki, saya tidak lupa membawa payung anti UV. Alhasil kali ini kulit saya terbebas dari sengatan matahari. Yes!!

Mungkin bagi sebagian orang, memakai Sun block terdengar sepele, tapi menurut saya, tujuan memakai sun block bukan hanya untuk kecantikan semata, tapi lebih untuk kesehatan, terutama untuk orang yang pigmennya tidak banyak, karena saya sendiri sudah berulang kali merasakan dan menyepelekan sengatan matahari. Seperti pribahasa yang mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati, jadi lebih baik pakai Sunblock daripada tersengat matahari.